adaptasi fisiologi bayi baru lahir

Adaptasifisiologi neonatus merupakan ilmu yang mempelajari fungsi dan proses vital neonatus dan juga mempelajari tentang penyesuaian yang terjadi pada bayi baru lahir. Neonatus adalah inividu yang baru saja mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin, selain itu, neonatus adalah individu Beberapaorang beranggapan membedong bayi baru lahir sangat perlu agar kelak kaki bayi yang berbentuk huruf 'O' menjadi lurus. Padahal tanpa dibedong, kaki bayi nantinya akan lurus dengan sendirinya, seiring perkembangan usianya. Bedong bagi bayi sebenarnya lebih bertujuan untuk membuat bayi hangat, bukan meluruskan kaki. Siblingrivalry adalah persaingan antara saudara kandung, merupakan salah satu alasan terkuat anak-anak bertengkar karena masing-masing anak ingin diperlakukan special oleh orang tuanya. Verney (2007) menggambarkan tingkah laku perkenalan sibling dengan bayi baru lahir yaitu pertemuan pertama anak laki-laki dengan adik perempuan baru, isyarat pertama keperawatanibu hamil, persalinan, bayi baru lahir, dan ibu nifas baik fisiologis maupun patologis, keluarga berencana dalam konteks keluarga, kesehatan perempuan pada masa usia adaptasi fisiologis dan psikologis ibu hamil dan perkembangan janin dalam 2 x 50 menit. 3. Mahasiswa mengikuti kuliah tentang Pengkajian, diagnosa PerubahanAnatomi dan Adaptasi Fisiologi Sistem Persyarafan pada Ibu Hamil Sunday, 18 January 2015 MAKALAH BBL ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA BAYI BARU LAHIR. Makalah ISBD |Hubungan Perkembangan Nilai Budaya dengan Kesmas. DTT dan Sterilisasi (Proses Peralatan Bekas Pakai) Labels. Lirik Chord Tak Ingin Usai. Background. Exclusive Breast Feeding EBF is a source of nutrition, the best vitamins and minerals for growth and development in the first six months of life. EBF can reduce the risk of death in infants but exclusive breastfeeding in Indonesia is still very low, especially in Oesapa community health center, which is 12,43% in 2016 . Objective. To analyze the risk factors of the low coverage exclusive breastfeeding in the Oesapa Community Health Center. Methods. Case control study design with consecutive sampling for case and control group. Samples include 48 mothers who did not give exclusive breastfeeding and control groups include 48 mothers who gave exclusive breastfeeding. The data analysis used were univariat and bivariat with chi square test and Odds Ratio. Result. The results of the analysis showed the value of husband's support OR p interest in milk formula OR 5,314; p 0,000, the level of maternal knowledge OR the last level of education of the mother OR 1,187; p 0,836, maternal age OR 1,741; p 0,433, maternal occupation OR 1,000; p 1,000, maternal income OR 1,533; p 1,000, maternal marital status OR 0,897; p 1,000, child birth order OR 0,833; 95 p 0,831, health care support OR 1,000; p 1,000. Conclusion. Risk factors of the low coverage exclusive breastfeeding in Oesapa community health center are husband’s support and interest in formula milk. Kata Kunci Exclusive Breast Feeding, risk factors, husband’s support, infant formula Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah memberikan setitik cahaya penerang sehingga berbagai permasalahan yang ada dapat diatasi dan rahmatnya kami diberi kesehatan dan keselamatan untuk menyelesaikan makalah yang berjudul ADAPTASI BAYI BARU LAHIR dapat terselesaikan. Makalah ini tidak terlepas dari keikhlasan dan kesabaran hati dari berbagai pihak yang telah banyak membantu oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing ASKEB PERSALINAN Ibu NURUL HIKMAH ANNISA, yang telah banyak memberikan bimbinganya. Kami menyadari begitu banyak terdapat kesalahan pada penyusunan makalah ini diluar dari kemampuan kami, kami memohon kritik dan saran guna penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhirnya dengan kerendahan hati kepada semua pihak untuk memaafkan semua kesalahan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Makalah PROSES ADAPTASI FISIOLOGI BAYI BARU LAHIR BBL DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.......................................................................................... i DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang........................................................................................ 1 B. Tujuan...................................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2 A. Definisi ................................................................................................... 2........... B. Adaptasi Bayi Baru Lahir........................................................................ 2 C. Immunologi............................................................................................. 2 D. Kulit......................................................................................................... 5 E. Sistem Persyarafan.................................................................................. 6 BAB III PENUTUP............................................................................................... 8 A. Kesimpulan.............................................................................................. 8 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan aterm yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim intrauterine ke kehidupan di luar rahim ekstrauterin. Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut. Sebagai seorang tenaga kesehatan, perawat harus mampu memahami tentang beberapa adaptasi atau perubahan fisiologi bayi baru lahir BBL. Hal ini sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Setelah lahir, BBL harus mampu beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung plasenta menjadi mandiri secara fisiologi. Setelah lahir, bayi harus mendapatkan oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi per oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit /infeksi. Oleh karena hal tersebut di atas lah kami menyusun makalah yang bejudul “Adaptasi Fisiologi Bayi Baru Lahir”. B. Tujuan Penulisan Mampu memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir. Mampu mengetahui fisiologi pada bayi baru lahir. Mampu mengidentifikasi penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir. Mampu melaksanakan pengkajian terkait dengan bayi baru lahir. BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berumur 0-28 hari Bobak, 2005. Menurut Laila, 2008, bayi baru lahir normal adalah individu baru yang lahir di dunia, dalam keadaannya yang terbatas, maka individu baru ini sanganlah membutuhkan perawatan dari orang lain B. Adaptasi Bayi Baru Lahir Bayi akan mengalami adaptasi sehingga yang semula bersifat bergantung kemudian menjadi mandiri secara fisiologis karena Mendapatkan oksigen melalui system sirkulasi pernapasannya yang baru Mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang cukup Dapat mengatur suhu tubuh Dapat melawan setiap penyakit dan infeksi Sebelum diatur oleh tubuh bayi sendiri, fungsi tersebut dilakukan oleh placenta yang kemudian masuk keperiode transisi. Periode transisi terjadi segera setelah lahir dan dapat berlangsung hingga 1 bulan atau lebih untuk beberapa system. Transisi yang paling nyata dan cepat adalah system pernapasan dan sirkulasi, system termogulasi, dan system metabolisme glukosa. C. Immunologi Sel fagosit, granulosit, monosit mulai berkembang sejak usia gestasi 4 bulan. Setelah lahir imunitas neonatus cukup bulan lebih rendah dari orang dewasa. Usia 3-12 bulan adalah keadaan imunodefisiensi sementara sehingga bayi mudah terkena infeksi. Neonatus kurang bulan memiliki kulit yang masih rapuh, membran mukosa yang mudah cedera, pertahanan tubuh lebih rendah sehingga berisiko menglami infeksi yang lebih besar. Perubahan beberapa kekebalan alami meliputi perlindungan oleh kulit, membran mukosa, fungsi jaringan saluran napas, pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus, dan perlindungan kimia oleh asam lambung. Sistem imun bayi baru lahir masih belum matur sehingga neonatus rentan mengalami infeksi dan alergi. Sistem imun yang matur akan membeir kekebalan alami maupun kekebalan dapatan. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Beberapa contoh kekebalan alami, meliputi 1 Perlindungan oleh membran mukosa 2 Fungsi saringan saluran napas. 3 Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus. 4 Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung. Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Akan tetapi, pada bayi baru lahir, sel-sel darah ini masih belum matur. Artinya, bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan dapatan akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan kekebalan pasif mendapat antibodi dari tubuh ibunya. Reaksi antibodo keseluruhan terhadap antigen asing masih belum muncul sampai awal kehidupan anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh. Bayi memiliki immunoglobulin pada saat lahir, namun lingkungan rahim yang aman membatasi bayi untuk bereaksi terhadap antigen tertentu. Ada tiga macam immunoglobulin Ig atau antibodi, yang ditandai dengan huruf untuk masing-masing golongan, yaitu IgG, IgA dan IgM, dan hanya IgG yang cukup kecil untuk melewati sawar plasenta. IgG merupakan golongan antibody yang sangat penting dan jumlahnya mencapai 75% dari seluruh antibody. IgG mempunyai kekebalan terhadap infeksi kuman virus tertentu. Pada waktu lahir, kadar IgG bayi sama atau sedikit lebih banyak dari ibu. IgG ini memberikan kekebalan pasif pada bayi selama beberapa bulan kehidupan. IgM dan IgA tidak melintasi sawar plasenta, melainkan dihasilkan sendiri oleh janin. Kadar IgM pada periode kehamilan mencapai 20% dari IgM orang dewasa dan perlu waktu 2 tahun untuk dapat menyamai kadar tersebut. Kadar IgM yang relatif rendah membuat bayi lebih rentan terkena infeksi. IgM juga penting, sebab sebagian besar antibody yang terbentuk sewaktu terjadi respons primer adalah golongan ini. Kadar IgA sangat rendah dan diproduksi dalam waktu yang lama, walaupun kadar sekresi mencapai kadar orang dewasa dalam kurun waktu 2 bulan. IgA melindungi dari infeksi saluran pernapasan, saluran usus lambung, dan mata. Sedangkan immunoglobulin jenis lainnya, yaitu IgD dan IgE tidak begitu berkembang pada masa awal bayi/neonatus. ASI dan terutama kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada bayi dalam bentuk 1 Laktoferin Merupakan protein yang mempunyai afinitas yang tinggi terhadap zat besi. Bersama dengan salah satu immunoglobulin, yaitu IgA, laktoferin mengambil zat besi yang diperlukan untuk perkembangan E. coli, stafilokokus, dan ragi. Kandungan zat besi yang rendah pada kolostrum dan ASI akan mencegah perkembangan kuman patogen. 2 Lisosom Bersama iGa mempunyai fungsi antibakteri dan juga menghambat pertumbuhan berbagai macam virus. 3 Faktor antiripsin Enzim tripsin berada di dalam saluran usus dan fungsinya adalah memecah factor Tripsin dalam kolostrum ASI akan menghambat kerja tripsin. Dengan demikian ,imunoglobiun tidak akan di pecah oleh tripsin. 4 Faktor bifidus. Laktobasilus terdapat dalaman usus bayi dan menghasilkan asam yang dapat mencegah pertumbuhan kuman pertumbuhannya,laktobasilus membutuhkan gula yasng mengandung nitrogen,yaitu factor bifidus,dan faktor ini terdapat dalam ASI. Kelenjar timus tempat diproduksinya limfosit relative besar pada waktu lahir dan terus meningkat hingga usia 8 tahun. Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan kekebalan dapatan ini, bayi baru lahir sangat rentan mengalami infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh sebab itu, pencegahan infeksi, seperti praktik persalinan aman, menyusui ASI dini terutama kolostrum, dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting. D. Kulit Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir, tetapi masih belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis. Verniks Caseosa juga berfusi dengan epidermis dan berfungsi sebagai lapisan pelindung. Kulit bayi sangat sensitif dan dapat rusak dengan mudah. Kulit sering terlihat berbercak, terutama di daerah sekitar ekstremitas. Tangan dan kaki terlihat sedikit sianotik. 1 Kaput suksedanum Kaput suksedanum ialah edema pada kulit kepala, yang ditemukan dini. Tekanan verteks yang lama pada serviks menyebabkan pembuluh darah setempat mendapat penekanan, sehingga memperlambat aliran balik vena. Aliran balik vena yang melambat membuat cairan jaringan di kulit daerah kepala meningkat, shingga terjadi pembengkakan. Tonjolan edema, yang terlihat saat bayi lahit, memanjang sesuai garis sutura tulang tengkorank dan lenyap secara spontan dalam tiga sampai 4 hari. 2 Kelenjar Lemak dan Kelenjar Keringat Kelenjar keringat sudah ada sejak bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak berespons terhadap peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit hiperplasia kelenjar sebasea dan sekresi sebum akibat pengaruh hormon saat hamil. Walaupun kelenjar sebasea seuda terbentuk dengan baik saat bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak terlalu aktif pada masa kanak-kanak. Kelenjar-kelenjar ini mulai aktif saat produksi androgen meningkat, yakni sesaat sebelum pubertas. E. Sistem Persyarafan Dibandingkan dengan sistem tubuh lain, sistem saraf bayi baru lahir masih sangat muda, baik secara anatomi maupu fisiologi. Ini menyebabkan kegiatan refleks spina dan batang otak dengan kontrol minimal oleh lapisan luar serebrum pada beberapa bulan pertama kehidupan, walaupun interaksi social terjadi lebih awal. Setelah bayi lahir, pertumbuhan otak memerlukan persediaan oksigen dan glukosa yang tetap dan memadai. Otak yang masih muda rentan terhadap hipoksia, ketidakseimbangan biokimia, infeksi dan perdarahan. Ketidakstabilan suhu dan gerak otot yang tidak terkoordinasi menggambarkan keadaan perkembangan otak dan mielinasi saraf yang tidak sempurna. Bayi baru lahir memperlihatkan sejumlah aktivitas refles pada usia yang berbeda-beda, yang menunjukan normalitas dan perpaduan antara sistem neurologi dan muskuloskeletal. Beberapa refleks tersebut 1 Refleks Moro. Refleks ini terjadi karena adanya reaksi miring terhadap rangsangan mendadak. Refleks ini dapat dimunculkan dengan cara menggendong bayi dengan sudut 45°, lalu kepalanya turun sekitar 1-2 cm. Bayi akan bereaksi dengan menarik dan menjulurkan lengannya yang kadang-kadang gemetaran. Lalu kedua lengannya akan memeluk dada. Reaksi yang sama juga terjadi pada tungkai, yang lentur ditekuk ke perut. Refleks ini simetris dan terjadi pada 8 minggu pertama setelah lahir. Ketiadaan refleks Moro menandakan imanuritas otak. Jika pada usia 6 bulan refleks tersebut masih ada, ini menunjukan retardasi mental. 2 Refleks Rooting Dalam memberikan reaksi terhadap belaian di pipi atau sisi mulut, bayi menoleh ke arah sumber rangsangan dan membuka mulutnya, siap untuk menghisap. 3 Refleks Mengedip/Refleks Mata Melindungi mata dari trauma 4 Refleks Menggenggam Refleks ini dimunculkan dengan menempatkan jari/pensil di dalam telapak tangan bayi, dan bayi akan menggenggamnya dengan erat. 5 Refleks Berjalan dan Melangkah Jika bayi disangga pada posisi tegak dan kakinya menyentuh permukaan yang rata, bayi akan terangsang untuk berjalan. Jika bayi dipegang dan tulang keringnya menyentuh tepi meja, bayi akan memanjat ke meja refleks penempatan tungkai. 6 Refleks Leher Tonik Asimetris Pada posisi telentang, jika kepala bayi menoleh ke satu arah, lengan di sisi tersebut akan ekstensi sedangkan lengan sebelahnya fleksi. Jika didudukkan tegak, kepala bayi pada awalnya akan terkulai ke belakang lalu bergerak ke kanan sesaat sebelum akhirnya menunduk ke depan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Adapatasi bayi baru lahir BBL adalah penyesuaian diri individu BBL dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna dalam kandungan Ibu yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi O2 dan nutrisi ke lingkungan eksterna diluar kandungan ibu yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya. Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung sampai 1 bulan atau lebih. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa. B. Saran 1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan penerapan yang baik untuk dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan diagnosis yang benar agar dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya masalah. 2. Semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan perawatan yang benar terkait dengan bayi baru lahir. DAFTAR PUSTAKA Depkes bayi baru Deslidel, Hajjah. 2011. Asuhan Neonates Bayi Dan Balita. Jakarta EGC Helmi, Zairin Ajar Gangguan Medika Irianto, Kus. 2010. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung Yrama Widya Keperawatan anak, 2008 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Perpustakaan nasional Katalog dalam terbitan KDT. 2001. Bayi Anda Tahun Pertama Tip Bergambar Perawatan Bayi Tahap Demi Tahap. Jakarta Arcan Rochmah K. M., SKM; Elita Vasra, SST; Dahliana,SKM; Heni Sumastri, Panduan Belajar Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita Jakarta EGC, 2011 Menurut Slusher 2013 Hiperbilirubin merupakan suatu kondisi di mana produksi bilirurin yang berlebihan di dalam darah. Menurut Lubis 2013, Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis tersering ditemukan pada bayi baru lahir, dapat disebabkan oleh proses fisiologis, atau patologis, atau kombinasi keduanya. Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal. Nilai normal bilirubin indirek 0,3-1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1-0,4 mg/dl. Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtivam dan mukosa akibat penumpukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemia adalah icterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernicterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Ikterus neonatorum adalah suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar bilirubin serum total lebih dari 10 mg% pada minggu pertama dengan ditandai adanya ikterus yang bersifat patologis Alimun, 2009. Bilirubin yang menumpuk di dalam tubuh ini biasanya disebut dengan istilah ikterus neonates dalam istilah medis. Hal ini biasanya ditandai dengan adanya semburat warna kuning pada bagian putih mata, kulit, air seni, gusi dan gigi. Biasanya bayi yang mengalami hiperbilirubin akan mengalami aktivitas yang cenderung diam atau tidak aktif. Bayi juga akan cenderung kurang nafsu menyusu pada ibunya, lebih rewel dan mengantuk serta tubuh bayi akan lebih lemas. Jadi, dari beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hiperbilirubin merupakan suatu kondisi di mana kadar bilirubin yang berlebihan dalam darah yang biasa terjadi pada neonatus baik secara fisologis, patologis maupun keduanya. B. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah; 1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa. LAPORAN PENDAHULUAN PADA BAYI BARU LAHIR NORMAL 1. DEFINISI BBLN " Bayi yang baru lahir dari kehamilan 37 minggu – 42 minggu dan BBL 2500 – 4000 gram ". Asuhan Kesehatan anak dalam konteks keluarga, DepKes RI, 1993 Asuhan Bayi Baru Lahir Normal " Asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah melahirkan ". Maternal dan Neonatal, 2002, Hal 30 2. CIRI-CIRI BAYI BARULAHIR NORMAL a. Berat badan 2500 – 4000 gr b. Panjang badan lahir 48 – 52 cm c. LIDA 30 – 38 cm d. LIKA 33 – 35 cm e. Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 160x/menit, kemudian menurun-120x/menit. f. Pernafasan pada menit pertama cepat kira-kira kemudian menurun kira-kira 40x/ menit. g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan diliputi vernix caseosa. h. Rambut lainnya telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna. i. Genetalia ♀ Labia mayora sudah menutupi labia minora. ♂ Testis sudah turun j. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik. k. Reflek morro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan seperti memeluk. l. Graff reflek sudah baik, apabila diletakkan sesuatu benda diatas telapak tangan bayi akan menggenggam. m. Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan. 3. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA BAYI BARU LAHIR F 0 D 8 Perubahan Metabolisme Karbohidrat Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah, untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari metabolisme asam lemak. F 0 D 8 Perubahan Suhu Tubuh Ketika bayi baru lahir, bayi berada dalam suhu lingkungan yang lebih rendah dari suhu didalam rahim ibu, akibatnya metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan O2 juga. F 0 D 8 Perubahan Pernafasan Selama dalam uterus janin mendapat O 2 dari plasenta, setelah lahir melalui paru-paru bayi. F 0 D 8 Perubahan Sirkulasi Dengan berkembangnya paru F 0 A E tekanan O2 meningkat F 0 A E CO2 menurun mengakibatkan resistensi pembu;uh darah sehingga aliran darah meningkat, hal ini menyebabkan darah dalam uterus pulmonalis mengalir ke paru F 0 A E puctus arterosus menutup. Dengan munculnya arteri dan vena umbilikasi dan terpotongnya tapi pisat, aliran darah dalam plesenta melalui vena kawa inferior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti, sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu. F 0 D 8 Perubahan alat pencernaan, hati ginjal mulai berfungsi. 4. PENATALAKSANAAN Segera setelah melahirkan bayi a. sambil secara ceepat menilai pernafasannya, letakkan bayi edngan handuk diatas perut ibu. b. Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah dan lahir dari wajah bayi. Untuk mencegah jalan udaranya terhalang. c. Klem dipotong tali tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3 cm dari pengkal pusat bayi.

adaptasi fisiologi bayi baru lahir